DESAIN LAMPU DEKORATIF INTERIOR RAMAH LINGKUNGAN: TRANSFORMASI LIMBAH KAYU DAN GULMA ECENG GONDOK MENJADI PRODUK KREATIF DI JAWA TIMUR

Authors

  • Grace Mulyono Petra Christian University
  • Kevin Adrian Prodi Desain Interior, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif, Universitas Kristen Petra
  • Victor Hugo Arjuna Prodi Desain Interior, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif, Universitas Kristen Petra

DOI:

https://doi.org/10.35886/patra.v6i1.658

Keywords:

lampu dekoratif, limbah kayu, eceng gondok

Abstract

Desain lampu dekoratif interior ramah lingkungan telah menjadi sorotan utama dalam upaya untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu pendekatan yang inovatif adalah dengan melakukan transformasi limbah kayu dan gulma eceng gondok menjadi produk kreatif. Artikel ini menyajikan sebuah studi mengenai desain lampu dekoratif interior yang menggunakan limbah kayu dari industri furniture dan gulma eceng gondok sebagai bahan utama. Desain Thinking Kelley diterapkan dalam penelitian ini, mulai tahap emphatize define, ideate, prototype dan test. Konsep desain "From Waste to Value" diterapkan, di mana limbah kayu dan gulma eceng gondok yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, diolah menjadi produk lampu dekoratif yang estetis dan fungsional. Tahapan produksi meliputi pemilihan limbah kayu, pengolahan eceng gondok menjadi anyaman, perakitan komponen lampu, dan proses finishing. Hasil dalam penelitian ini adalah produk lampu dekoratif yang unik dan menarik, dengan mengurangi penggunaan bahan baru dan memanfaatkan limbah yang akan dibuang. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis aspek keberlanjutan dan dampak lingkungan dari penggunaan limbah kayu dan gulma eceng gondok dalam desain lampu dekoratif. Diharapkan bahwa penelitian ini dapat mendorong perkembangan desain lampu dekoratif interior yang lebih ramah lingkungan dan meningkatkan peningkatan industri kreatif masyarakat Indonesia.

References

Direktur Jenderal Pengelola Hutan Lestari, “statistics of the directorate general of sustainable forest management,” Jakarta, 2021. Accessed: Jul. 15, 2023. [Online]. Available: https://phl.menlhk.go.id/static/file/statistik/1664940352-Statistik%20Ditjen%20PHL%20Tahun%202021.pdf
[2] A. Purwanto, “Penerapan Green Industry Melalui Pelatihan Sistem Manajemen Hutan FSC-CoC Pada Industri Packaging Kertas di Tangerang (Implementation of Green Industry Through System Training Forest Management FSC-CoC in the Paper Packaging Industry in Tangerang),” Journal of Community Service and Engagement, vol. 1, no. 02, 2021.
[3] S. Punitha et al., “Processing of Water Hyacinth Fiber to improve its absorbency,” IOP Conf Ser Mater Sci Eng, vol. 551, no. 1, 2018, Accessed: Dec. 01, 2022. [Online]. Available: https://www.researchgate.net/profile/K-Sangeetha-4/publication/318702053_Processing_of_Water_Hyacinth_Fiber_to_improve_its_absorbency/links/5bddd3b0299bf1124fb95f83/Processing-of-Water-Hyacinth-Fiber-to-improve-its-absorbency.pdf
[4] A. M. Villamagna and B. R. Murphy, “Ecological and socio-economic impacts of invasive water hyacinth (Eichhornia crassipes): A review,” Freshwater Biology, vol. 55, no. 2. 2010. doi: 10.1111/j.1365-2427.2009.02294.x.
[5] M. G. Dersseh, A. M. Melesse, S. A. Tilahun, M. Abate, and D. C. Dagnew, “Water hyacinth: Review of its impacts on hydrology and ecosystem services-Lessons for management of Lake Tana,” in Extreme Hydrology and Climate Variability: Monitoring, Modelling, Adaptation and Mitigation, 2019. doi: 10.1016/B978-0-12-815998-9.00019-1.
[6] I. Harun, H. Pushiri, A. J. Amirul-Aiman, and Z. Zulkeflee, “Invasive water hyacinth: Ecology, impacts and prospects for the rural economy,” Plants, vol. 10, no. 8. 2021. doi: 10.3390/plants10081613.
[7] M. Camacho, “David Kelley: From Design to Design Thinking at Stanford and IDEO,” She Ji, vol. 2, no. 1. 2016. doi: 10.1016/j.sheji.2016.01.009.
[8] D. Purwanto, “Analisa jenis limbah kayu pada industri pengolahan kayu di Kalimantan Selatan,” Jurnal Riset Industri Hasil Hutan, vol. 1, no. 1, pp. 14–20, 2009.
[9] M. E. A. Satmoko, D. D. Saputro, and A. Budiyono, “Karakterisasi briket dari limbah pengolahan kayu sengon dengan metode cetak panas,” JMEL: Journal of Mechanical Engineering Learning, vol. 2, no. 1, 2013.
[10] D. Hendra and I. Winarni, “Sifat fisis dan kimia briket arang campuran limbah kayu gergajian dan sabetan kayu,” Jurnal Penelitian Hasil Hutan, vol. 21, no. 3, pp. 211–226, 2003.
[11] I. W. Sutarman, “Pemanfaatan limbah industri pengolahan kayu di kota denpasar (studi kasus pada cv aditya),” Penelitian Dan Aplikasi Sistem Dan Teknik Industri, vol. 10, no. 1, p. 182888, 2016.
[12] G. Daian and B. Ozarska, “Wood waste management practices and strategies to increase sustainability standards in the Australian wooden furniture manufacturing sector,” J Clean Prod, vol. 17, no. 17, pp. 1594–1602, 2009.
[13] S. Saraswat, “Green Furniture Design: A Way to Promote Environment Sustainability”.
[14] S. Aniek, “Kerajinan Tangan Enceng Gondok,” Jawa Tengah: Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP), 2003, [Online]. Available: https://uplikbatik.files.wordpress.com/2010/07/pengolahan-eceng-gondok.pdf
[15] I. W. Sudana and I. Mohamad, “Konsep Pengembangan Seni Kerajinan Eceng Gondok Gorontalo,” Panggung, vol. 31, no. 2, 2021, Accessed: Dec. 01, 2022. [Online]. Available: https://repository.ung.ac.id/get/karyailmiah/7736/Konsep-Pengembangan-Seni-Kerajinan-Eceng-Gondok-Gorontalo.pdf

Downloads

Published

2024-05-25

How to Cite

Mulyono, G., Adrian, K., & Arjuna, V. H. (2024). DESAIN LAMPU DEKORATIF INTERIOR RAMAH LINGKUNGAN: TRANSFORMASI LIMBAH KAYU DAN GULMA ECENG GONDOK MENJADI PRODUK KREATIF DI JAWA TIMUR. Jurnal PATRA, 6(1), 16–23. https://doi.org/10.35886/patra.v6i1.658