AKULTURASI ARSITEKTUR KOLONIAL PADA ORNAMEN RUMAH GADANG MUH. SALEH SEBAGAI CAGAR BUDAYA TIDAK BERGERAK

Authors

  • Kenanga Maharani Aznel S2 Desain, Fakultas Industri Kreatif, Telkom University
  • Mohammad Isa Pramana Koesoemadinata S2 Desain, Fakultas Industri Kreatif, Telkom University

DOI:

https://doi.org/10.35886/patra.v6i1.672

Keywords:

Akulturasi, Kolonial, Minangkabau, Rumah Gadang Muh. Saleh

Abstract

Indonesia kaya akan keanekaragaman etnis, salah satunya suku Minangkabau. Masuknya Belanda ke wilayang Minangkabau telah memberikan pengaruh dan perubahan berbagai tradisi dan kebudayaan. Salah satu dampak akulturasi yang terlihat jelas yaitu pada arsitektur tradisional suku Minangkabau yang berada di Kota Pariaman, yakni Rumah Gadang Muh. Saleh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji akulturasi arsitektur kolonial terhadap ornamen tradisional pada Rumah Gadang Muh. Saleh di Kota Pariaman, Sumatera Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data primer melalui observasi dan wawancara, serta data sekunder dari studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Gadang Muh. Saleh mengalami akulturasi budaya berupa transformasi dari penggunaan material kayu menjadi beton dan batu bata, serta mengadopsi elemen gaya arsitektur kolonial seperti jendela dan pintu besar, serta kolom-kolom bergaya Eropa. Selain itu, terdapat ornamen ukiran khas Minangkabau yang mencerminkan evolusi seni ukir tersebut. Manfaat penelitian ini adalah memberikan pengetahuan bagi desainer dan arsitek untuk mengembangkan ornamen pada bangunan masa kini, serta memperkaya pengetahuan generasi muda tentang kekayaan budaya Indonesia terutama Rumah Gadang Muh. Saleh.

References

[1] D. Agustin and N. R. Lailiyah, “KAJIAN ORNAMEN PADA RUMAH TRADISIONAL MADURA.”
[2] E. Meigalia, Y. S. Putra, and B. Bahren, “EDUKASI PELESTARIAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA PADA MASYARAKAT NAGARI SIJUNJUNG, SUMATERA BARAT,” BULETIN ILMIAH NAGARI MEMBANGUN, vol. 4, no. 1, pp. 65–70, Mar. 2021, doi: 10.25077/bina.v4i1.298.
[3] J. T. Arsitektur, A. Teknik, Y. Yogyakarta, J. Gagak, R. No, and Y. Balapan, “MAKNA BUDAYA PADA ELEMEN ARSITEKTUR RUMAH GADANG BODI CANIAGO MINANGKABAU DI PROPINSI SUMATRA BARAT Aulia Abrar.”
[4] Mhd. Nur, Perjuangan Sultan Alam Bagagar Syah dalam melawan penjajah Belanda di Minangkabau pada abad ke-19.
[5] A. Habibullah, M. A. S. A. Aisyah, and L. N. A. Hoerunnisa, “WUJUD AKULTURASI BUDAYA PADA ARSITEKTUR MENARA KUDUS DI JAWA TENGAH,” DHARMASMRTI JURNAL ILMU AGAMA & KEBUDAYAAN, vol. 22, no. (p) 1693-0304 (e) 2620-827X, pp. 19–27, 2022.
[6] S. A. Yusuf, “WUJUD AKULTURASI ARSITEKTUR PADA ASPEK FUNGSI, BENTUK, DAN MAKNA BANGUNAN GEREJA KRISTEN PNIEL BLIMBINGSARI DI BALI”.
[7] C. Roesli and S. Rachmayanti, “AKULTURASI ARSITEKTUR KOLONIAL BELANDA PADA RUMAH TOKO CINA PERANAKAN DI JAKARTA,” 2014.
[8] P. Data, S. Pendidikan, D. Kebudayaan, S. Jenderal, and K. Pendidikan, “Laporan Analisis Kekayaan dan Keragaman Budaya Provinsi Sumatera Barat,” 2017.
[9] Osrifoel Oesman, Jirek gadang rumah adat Minangkabau : album budaya. Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan, Jakarta, 1st ed. Jakarta: Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendididkan dan Kebudayan, 2013.
[10] Mestika Zed, Saudagar Pariaman menerjang ombak membangun maskapai : riwayat Muhammad Saleh Datuk Rangkayo Basa (1841 - 1921) perintis perusahaan modern pribumi nusantara / Mestika Zed ; pengantar, M. Dawam Rahardjo, Cetakan Pertama. Depok: LP3ES, 2017.
[11] N. A. A. Kadir, N. N. N. Dahalan, and N. Jamaludin, “SENI DALAM ISLAM: KAJIAN KHUSUS TERHADAP SENI UKIR,” E-Journal of Islamic Thought and Understanding, vol. 1, pp. 1–15, 2018.

Downloads

Published

2024-05-25

How to Cite

Aznel, K. M., & Koesoemadinata, M. I. P. (2024). AKULTURASI ARSITEKTUR KOLONIAL PADA ORNAMEN RUMAH GADANG MUH. SALEH SEBAGAI CAGAR BUDAYA TIDAK BERGERAK. Jurnal PATRA, 6(1), 6–14. https://doi.org/10.35886/patra.v6i1.672