DESAIN MEBEL DALAM MENUNJANG KEGIATAN KREATIF KRAMA BANJAR DI MASA PANDEMI PADA BANGUNAN WANTILAN BALE BANJAR DI DENPASAR DAN BADUNG

  • Ni Nyoman Sri Rahayu

Abstract

A B S T R A C T

 

                    The main function of the bale banjar is to meeting activity. The use of the bale banjar as an activity space is also carried out by young people. They use it as a space for activity and cultural creativity, such as: making ogoh-ogoh, kites, dancing and playing exercises, performing arts.

                    The phenomenon that occurred at the beginning of the pandemic was the online learning process for school and college children. This condition makes the need for quotas increase, that’s why school students are looking for a wifi signal. Wifi in the banjar is very helpful and supports this activity. To accommodate these needs, we was held excursions to several bale banjar in Denpasar and Badung, to give furniture design solutions.

                    The furniture design referred to here is loose furniture which refers to moveable furniture. The furniture designed in this excursion is in the form of chairs and tables. Some ideas that can be designed as design solutions include multifunctional furniture and mobile furniture. Multifunctional furniture, some of which can be folded so that it is flexible. Furniture design solutions to accommodate study and work activities for Banjar community, including: folding chairs, multi-functional furniture, legless chairs with backrests, and low tables.

Keyword : the furniture design, pandemic, bale banjar

 

ABSTRAK

 

Fungsi utama bale banjar adalah untuk menyamakan visi dengan cara rapat (sangkep). Pemanfaatan bale banjar sebagai ruang aktivitas juga dilakukan oleh anak-anak muda. Anak-anak muda banjar memanfaatkannya sebagai ruang aktivitas serta ruang kreativitas budaya, seperti misalnya: pembuatan ogoh-ogoh, layang-layang, latihan menari dan megambel, pentas dan perlombaan seni.

Fenomena yang terjadi di awal masa pandemi adalah proses belajar anak sekolah dan kuliah yang berlangsung secara online. Kondisi ini membuat kebutuhan akan kuota semakin meningkat, dan banyak diantara warga khususnya murid sekolah dan mahasiswa yang mencari sinyal wifi. Keberadaan wifi di banjar sangat membantu dan mendukung kegiatan ini. Untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut, maka dilakukan pengabdian masyarakat berupa ekskursi ke beberapa bale banjar di Denpasar dan Badung, untuk memberikan solusi desain berupa mebel.

Desain mebel disini adalah loose furniture yang merujuk pada moveable furniture. Mebel yang dirancang dalam kegiatan ekskursi ini berupa kursi dan meja. Beberapa ide yang dapat dijadikan rancangan sebagai solusi desain diantaranya adalah multifungtional furniture dan mobile furniture. Furnitur multifungsi beberapa diantaranya dapat dilipat sehingga fleksible dan tidak memerlukan banyak ruang. Solusi desain furniture untuk mewadahi kegiatan belajar dan bekerja bagi warga banjar, diantaranya: kursi lipat, mebel multifungi, kursi tanpa kaki (lesehan) dengan sandaran, serta meja rendah untuk lesehan.

 

Kata Kunci : desain mebel, pandemi, bale banjar

References

Candra. C. 2017. Perancangan Mebel Multifungsi untuk Daily Treats Surabaya. Dalam https://media.neliti.com/media/publikations/90715-ID-perancangan-mebel-multifungsi-untuk-dail.pdf

Pratama, I. Gede Yudha. "PROSES KREATIF DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN UMKM MELALUI RANGKAIAN ACARA CLINIC DESIGN-STD BALI DESIGN WEEK." Jurnal Lentera Widya 2.1 (2020): 9-14. Doi: https://doi.org/10.35886/lenterawidya.v2i1.103

Sanjaya, Anak Agung Ngurah Anom, dkk. 2019. Pemanfaatan Bale Banjar Sebagai Ruang Kreativitas Anak Muda Di Kota Denpasar. Dalam

https://media.neliti.com/media/publikations/316615-pemanfaatan-bale-banjar-sebagai-ruang-kr-b27f3ae4.pdf

Wicaksono. A. 2016. Pengertian Mebel. Dalam https://repository.dinamika.ac.id/id/eprint/1648/4/BAB_II.pdf

Published
2022-06-01
How to Cite
Rahayu, N. N. S. (2022). DESAIN MEBEL DALAM MENUNJANG KEGIATAN KREATIF KRAMA BANJAR DI MASA PANDEMI PADA BANGUNAN WANTILAN BALE BANJAR DI DENPASAR DAN BADUNG. Jurnal Lentera Widya, 3(2), 91-97. https://doi.org/10.35886/lenterawidya.v3i2.277