PERANCANGAN GERAI KERAJINAN KHAS MANDALIKA SEBAGAI DESTINASI WISATA SUPER PRIORITAS DENGAN PENDEKATAN STORYNOMICS TOURISM

  • I Made Pande Artadi Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Denpasar
  • Anak Agung Gede Rai Remawa Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Denpasar
  • I Putu Udiyana Wasista Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Denpasar
  • I Made Jayadi Waisnawa Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Denpasar
  • Gede Pasek Putra Adnyana Yasa Program Studi Produksi Film dan Televisi, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Denpasar
Keywords: Mandalika, pariwisata, storynomics, Lombok

Abstract

Budaya yang berkembang di wilayah Mandalika merupakan aset mahal dalam mengembangkan pariwisata dengan pendekatan storynomics tourism. Adanya hal ini, menyebabkan Mandalika dicanangkan sebagai kawasan destinasi prioritas oleh Kemenparekraf/Baparenkraf RI. Ditambah lagi dengan adanya keberadaan Sirkuit Mandalika kini menyebabkan Mandalika memperoleh status Kawasan Ekonomi Khusus. Namun muncul masalah menjamurnya gerai-gerai kerajinan khas Lombok di sekitar Sirkuit Mandalika, yang menyebabkan kondisi kumuh (ghetto). Oleh karenanya, peneliti dan pihak ITDC melakukan kolaborasi dalam kegiatan matching fund, untuk merancang gerai-gerai kerajinan tersebut agar lebih tertata dan estetis menggunakan pendekatan storynomics tourism. Metode yang digunakan terdiri dari tiga tahapan yaitu tahap inspirasi, tahap gagasan, dan tahap implementasi. Hasilnya narasi dalam pendekatan storynomics tourism telah diimplementasikan ke dalam rancangan interior di kawasan gerai kerajinan dan souvenir. Penggunaan identitas lokal seperti bentuk lumbung, bentuk dan warna nyale, motif songket Subahnale, peresean, motif anyaman ketak dan rotan, bentuk cupu, hingga kisa Puteri Mandalika, berhasil dimplementasikan ke dalam elemen-elemen ruang dan massa bangunan.

 

References

[1] R. V. Bianchi dan F. de Man, “Tourism, inclusive growth and decent work: a political economy critique,” J. Sustain. Tour., vol. 29, no. 2–3, hlm. 353–371, Mar 2021, doi: 10.1080/09669582.2020.1730862.
[2] H. Oh, A. M. Fiore, dan M. Jeoung, “Measuring Experience Economy Concepts: Tourism Applications,” J. Travel Res., vol. 46, no. 2, hlm. 119–132, Nov 2007, doi: 10.1177/0047287507304039.
[3] F. Frenzel dan K. Koens, “Slum Tourism: Developments in a Young Field of Interdisciplinary Tourism Research,” Tour. Geogr., vol. 14, no. 2, hlm. 195–212, Mei 2012, doi: 10.1080/14616688.2012.633222.
[4] R. Scheyvens, “Backpacker tourism and Third World development,” Ann. Tour. Res., vol. 29, no. 1, hlm. 144–164, Jan 2002, doi: 10.1016/S0160-7383(01)00030-5.
[5] A. Holešinská dan M. Šauer, “Economic transition and tourism development – mass tourism in Prague,” dalam XXI. mezinárodní kolokvium o regionálních vědách, Kurdějov, 13. - 15. června 2018, Kurdějov, 2018, hlm. 501–507. doi: 10.5817/CZ.MUNI.P210-8970-2018-65.
[6] S. A. Asongu, J. I. Uduji, dan E. N. Okolo-Obasi, “Tourism and insecurity in the world,” Int. Rev. Econ., vol. 66, no. 4, hlm. 453–472, Des 2019, doi: 10.1007/s12232-019-00330-z.
[7] A. Lisowska, “Crime in tourism destinations: Research review,” Turyzm/Tourism, vol. 27, no. 1, hlm. 31–39, Jun 2017, doi: 10.18778/0867-5856.27.1.12.
[8] U. Sunlu, “ENVIRONMENTAL IMPACTS OF TOURISM,” dalam Local resources and global trades: Environments and agriculture in the Mediterranean region, 2003, hlm. 263–270.
[9] M. J. Melalatoa, Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia Jilid A-K. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1995.
[10] Kemenparekraf/Baparenkraf RI, “Mengenal Storynomics Tourism, Gaya Baru Mempromosikan Pariwisata,” 30 April, 2021. https://kemenparekraf.go.id/ragam-pariwisata/Mengembangkan-Potensi-Wisata-dengan-Storynomics-Tourism-di-Indonesia
[11] T. Kartika dan N. Riana, “Storynomics Tourism as an Effective Marketing Strategy on Tourism Destination (Case Study on Tangkuban Parahu, West Java-Indonesia),” Tour. Sustain. Dev. Rev., vol. 1, no. 1, hlm. 33–40, 2020, doi: 10.31098/tsdr.v1i1.8.
[12] R. Fazalani, “TRADISI BAU NYALE TERHADAP NILAI MULTIKULTURAL PADA SUKU SASAK,” Fon J. Pendidik. Bhs. Dan Sastra Indones., vol. 13, no. 2, Okt 2018, doi: 10.25134/fjpbsi.v13i2.1549.
[13] B. Y. K. Wahidah, “Mitologi Putri Mandalika Pada Masyarakat Sasak Terkait Dengan Bau Nyale Pada Pesta Rakyat Sebagai Kearifan Lokal Tinjauan Etnolinguistik tahun 2018,” JUPE J. Pendidik. Mandala, vol. 4, no. 5, 2019.
[14] H. Zulhadi, “Penentuan Tanggal Bau Nyale Dalam Kalender Rowot Sasak,” Ulumuna J. Studi Keislam., vol. 4, no. 2, hlm. 217–241, 2018, doi: 10.36420/ju.v4i2.3503.
[15] H. N. Estriani, “Kawasan Ekonomi Khusus (Kek) Mandalika Dalam Implementasi Konsep Pariwisata Berbasis Ecotourism: Peluang Dan Tantangan,” J. Mandala J. Ilmu Hub. Int., vol. 2, no. 1, hlm. 64–79, 2019, doi: 10.33822/mjihi.v2i1.995.
[16] G. Ambrose dan P. Harris, Basic Design: Design Thinking. AVA Publishing, 2010.
[17] IDEO.org, The Field Guide to Human-Centered Design. IDEO.org, 2015.
[18] ITDC, “ITDC Creating Destinations.” https://www.itdc.co.id (diakses 1 Desember 2022).
[19] K. Thoring, P. Desmet, dan P. Badke-Schaub, “Creative environments for design education and practice: A typology of creative spaces,” Des. Stud., vol. 56, hlm. 54–83, Mei 2018, doi: 10.1016/j.destud.2018.02.001.
[20] J. Dul dan C. Ceylan, “Work environments for employee creativity,” Ergonomics, vol. 54, no. 1, hlm. 12–20, Jan 2011, doi: 10.1080/00140139.2010.542833.
[21] H. Liu dan F.-H. Chen, “The study on color design of the interior space in the high school library,” dalam 5th International Conference on Civil Engineering and Transportation, 2015, hlm. 1381–1385.
[22] G. John, Designing Libraries in 21st Century. London: British Council, 2016.
Published
2023-05-02
How to Cite
Artadi, I. M. P., Remawa, A. A. G. R., Wasista, I. P. U., Waisnawa, I. M. J., & Yasa, G. P. P. A. (2023). PERANCANGAN GERAI KERAJINAN KHAS MANDALIKA SEBAGAI DESTINASI WISATA SUPER PRIORITAS DENGAN PENDEKATAN STORYNOMICS TOURISM. Jurnal PATRA, 5(1), 16-27. https://doi.org/10.35886/patra.v5i1.508